Sore-sore Pak Wiji menumpuk
pakan ternak sapi dan kambing di kandang, sebab besok harus turut mrogan untuk
menyambut kedatangan Kanjeng Bupati. Sama halnya dengan seluruh warga di desa
ini, bagi yang mempunyai keperluan kerja di sawah atau kebun besok harus
ditunda atau pekerjaannya diselesaikan hari ini.
Pak wiji mengambil air di sumur,
kemudian memasaknya bersama bekatul dan garam untuk memberi minum si poang sapi
betinanya agar tidak masuk angin. Karena hawa akhir-akhir ini begitu mudah
berubah, dari dingin ke panas dan sebaliknya. Sampai-sampai Pak Wiji sendiri
yang sering kena masuk angin. Kalau sudah Pak Wiji kena angin maka giliran Bu
Wiji mendapat tambahan pekerjaan memijit dan mengerik.
Pak Dukuh sudah seminggu yang
lalu mewanti-wanti agar bersih-bersih lingkungan desa karena Kanjeng Bupati mau
lewat sini. Dan seperti biasa, wargapun senang gembira menyambut kedatangan
Kanjeng Bupati. Jalan yang berlobang sementara akan ditimbun, rumput-rumput di
pinggir jalan pasti akan bersih, sampai-sampai hal-hal yang tak perlu di
bersihkan ikut dibersihkan pula. Seperti halnya pohon-pohon yang rindang malah
di potong dahannya sehingga terkesan prampang.
Warga meski tidak dikomando
sudah mengetahui apa-apa yang perlu di kerjakan. Rasa gotong royong yang sangat
kental agaknya sangat membantu pekerjaan yang butuh selesai dengan waktu cepat.
Umbul-umbul merah putih dinaikan, pagar-pagar di cat putih rapi meski
sebenarnya hanya cat dlingo atau kapur murahan. Tetapi cat kapur yang sering di
bikin sendiri oleh warga ini sangat efektif, sekali cat saja permukaan pagar sudah
tertutup warna putih mentereng. Kalau rumah gedhek yang di cat ditambah sedikit
kotoran sapi agar dinding anyaman bambu tersebut awet bertahun-tahun.
Hari itu pohon jambu Pak Pringgo
turut terkena pembersihan karena terletak tepat di pinggir jalan. Banyak yang
menyesalkan pohon itu turut tertebang , utamanya anak-anak kecil yang merasa
pohon itu milik mereka karena buahnya yang lebat dan enak manis. Pak Pringgo
sendiri sudah wanti-wanti kepada tetangga termasuk kepada Pak Wiji untuk tidak
menebang pohon itu. Pesannya bahwa pohon itu tidak akan mengganggu Kanjeng
Bupati saat lewat sini. Tetapi saat inspeksi mendadak oleh Pak Dukuh, ia
menginginkan pohon itu agar di tebang saja. Pak Wiji sudah memberikan
penjelasan pada seluruh warga bahwa pohon itu tak boleh ditebang. Pohon itu
tetap di tebang menurut keinginan Pak Dukuh dan seluruh warga sudah diyakinkan
bahwa yang bertanggung jawab adalah Pak Dukuh. Pak Pringgo sendiri yang sudah
lanjut usia hanya menyarankan bahwa sebelum menebang hendaknya melakukan sesaji
dahulu. Sesaji dalam arti memberikan semacam doa dan permintaan maaf kepada Si
pohon bahwa mereka akan menebang.
Seorang kaum yang dituakan dan
biasa memimpin acara adat warga segera di panggil oleh Pak Wiji untuk memimpin
upacara sesaji itu. Hari menjelang siang saat pak Kaum datang untuk memimpin
sejaji. Pak Kaum sudah siap dengan segala ubo rampe peralatan doanya termasuk
jajan pasar untuk dipersembahkan sebelum pohon di tebang. Namun sebelum pohon
sempat di tebang, seluruh anak-anak yang dekat dengan kediaman Pak pringgo
secara mendadak kesurupan. Ada yang berteriak histeris sambil matanya melotot,
ada juga yang badanya kejang-kejang tak karuan. Orang-orang desa yang sedang
fokus pada pekerjaan membersihkan lingkungan menjadi kebingungan. Pak Kaum sendiri
juga kebingungan melihat gejala aneh yang ditimbulkan oleh rencana penebangan
pohon jambu itu. Orang-orang berseru agar tidak jadi saja rencana penebangan
pohon itu, daripada menimbulkan malapetaka bagi warga desa. Pak Pringgo pun
menyarankan demikian, setelah mendengar teriakan salah satu bocah yang
kesurupan, bahwa kalau pohon jambu itu jadi di tebang maka sang penghuni pohon
juga akan memenggal leher Kanjeng Bupati saat lewat jalan ini. Seluruh warga
kemudian sepakat untuk tidak jadi menebang pohon jambu itu. Semua sudah tekad
bulat ketika nanti ditanyakan oleh Pak Dukuh, kenapa pohon itu tidak jadi di
tebang mereka akan menjelaskan kejadian hari itu.
Hari kunjungan telah tiba,
seluruh gapura dan pagar bumi yang ada di kanan kiri jalan yang akan dilalui
sudah terlihat sangat bersih di cat putih. Sebelum Kanjeng Bupati tiba, tampak
beberapa rombongan yang mondar-mandir melewati jalan itu untuk memastikan bahwa
semuanya sudah beres dan aman. Satu jam kemudian keadaan di sepanjang jalan
sudah ramai oleh masyarakat yang turut menyambut kunjungan Kanjeng bupati.
Anak-anak kecil dalam gendongan ibunya, kakek-kakek dengan pakaian pantas dan
semua warga tumpah ruah ke jalan untuk menyambut kedatangan Kanjeng Bupati.
Hanya pohon jambu itu memang
satu-satunya pohon yang terlihat masih lebat dan rindang karena warga desa tak
berani menebangnya. Kendaraan yang ditumpangi rombongan kanjeng Bupati sudah
terlihat di ujung jalan. Anak-anak kecil yang kemarin kesurupan bersorak sorai
bahwa rombongan tiba. Sorakanya sangat keras sekali sehingga smua warga juga
turut gembira bersorak. Rencananya Kanjeng Bupati akan membangun koperasi yang
akan dipergunakan untuk kepentingan petani.. Karena mayoritas warga di sini
adalah peternak dan petani maka warga menyambut gembira rencana tersebut.
Melewati pohon jambu yang tidak jadi di tebang, kendaraan berjalan agak pelan
dan seluruh rombongan melihat ke arah pohon itu. Rupanya kabar tetang kejadian
kemarin sudah sampai ke telinga Kanjeng Bupati. Ternyata aman-aman saja
rombongan itu melewati pohon jambu keramat itu, mereka semua tampak lega dan
senang sembari melambaikan tangan ke arah warga. Namun tidak sampai seratus
meter melewati pohon itu, rombongan dan seluruh warga dikejutkan oleh suara
kentongan yang bertalu-talu menandakan bahaya. Semua orang yang mendengar
kentongan mulai bingung dan panik karena tidak tahu kejadian apa yang sedang
terjadi. Suara kentongan semakin lama kian keras di susul dengan suara
kentongan lain lagi dan suara-suara yang berteriak-teriak. Pengawal rombongan
bersiap sigap mengamankan kendaraan yang ditumpangi Kanjeng Bupati. Tetapi
kendaraan itu tidak bisa menjauhi desa yang sedang dilanda kejadian misterius
itu, karena semua warga tumpah di jalanan. Sejenak kemudian baru di ketahui
bahwa ternyata ada dua ekor sapi yang menarik gerobak berisi pupuk kandang
sedang mengamuk. Entah kenapa sapi penarik gerobak itu tiba-tiba mengamuk.
Kentongan masih berbunyi
bertalu-talu, ternyata gerobak sapi itu berlari kencang menuju jalan yang di
kerumuni warga. Hiruk pikuk kembali pecah, ada warga yang berlari menuju rumah
ada juga yang memanjat pohon untuk menyelamatkan diri. Tapi gerobak sapi tetap
saja mengamuk sambil menumpahkan pupuk kandang di jalanan. Tak sempat berlari
akhirnya kendaraan rombongan Kanjeng Bupati hanya diam melihat kejadian itu.
Sopir Kanjeng Bupati sudah
keburu lari duluan, sementara Kajeng Bupati dan rombongan masih berada di dalam
kendaraan. Tak pelak kendaraan rombongan itu juga menjadi sasaran amukan
gerobak sapi hingga tumpahan pupuk kandang yang masih basah itu menumpahi
kendaraan dan orang yang didalamnya. Setelah sekian lama gerobak itu mengamuk,
sapi-sapi itu lelah juga dan kembali tenang. Gerobak yang sudah tidak berbentuk
itu kini sudah di tangani oleh si pemiliknya. Warga hanya dapat mengelus dada
melihat kejadian yang sangat tiba tiba itu. Kejadian itu tidak memakan korban
luka atau nyawa tapi telah menggagalkan kunjungan Kanjeng Bupati di desa itu.
Keesokan harinya berita tentang
kegagalan kunjungan itu telah beredar luas di seluruh wilayah kabupaten. Bahkan
surat kabr lokal juga memuat berita yang sangat aneh itu dengan dibumbui
bahasa-bahasa mistis. Ada yang mengartikan kejadian tersebut adalah penolakan
roh roh leluhur terhadap kunjungan Kanjeng Bupati, yang dikaitkan dengan
tingkah laku penguasa dan keluarganya yang gemar berfoya-foya dan melupakan
tugasnya sebagai pengayom masyarakat. Juga ada yang bilang bahwa Kenjeng Bupati
sangat suka di suap oleh pengusaha-pengusaha dengan barang-barang mewah dari
luar negeri. Pembicaraan-pembicaraan tersebut di kalangan masyarakat makin
ramai terdengar, dan para dinas intelejen Kabupaten sudah tidak repot lagi
bersembunyisembunyi untuk mendapati orang-orang yang tidak suka pada Kanjeng
Bupati.
Hari ke hari suara-suara sumbang
yang di tujukan ke Kanjeng Bupati tidak surut. Di pasar-pasar, di sekolah, di
tempat warung kopi semua bicara dengan bahasanya masing-masing menurut tingkat
pengetahuan mereka. Para penasihat Kanjeng Bupati yang terdiri dari kalangan
profesor dari bidang ekonomi,politik, dan kebudayaan yang sering tampil di
media masa dan surat kabar masih konsisten membela kanjeng Bupati.
Meski tidak secara
terang-terangan, para penasihat sering kali menginap di Kabupaten atau kediaman
Kanjeg Bupati untuk turut memikirkan penyelesaian pergolakan di kalangan
masyarakat. Dan suatu kali rapat yang di tengah malam dikejutkan oleh pengirima
paket berisi bangkai tikus oleh orang yang tidak di kenal. Para penasihat
menganjurkan Kanjeng Bupati untuk menggelar siaran pers tentang kejadian itu.
Disarankan pula agar Kanjeng
Bupati tidak usah marah denga kejadian itu dan tetap berlagak santun di depan
semua orang. Dari seorang penasihat ahli budaya di dapatkan saran bahwa tidak
usah di anggap pergolakan di tingkat bawah karena hal itu adalah hal yang sangat
biasa. Katanya, bahwa semua pembicaraan hanya akan menjadi pembicaraan saja
tanpa ada tindakan karena karakter masyarakat kita adalah pengecut atau
inlander.
Mereka kebanyakan hanya
ikut-ikutan bicara untuk menunjukan bahwa mereka suka membaca koran dan melihat
berita. Dan kalangan cerdik pandai yang suka protes itu gampang saja di beri
sogokan dengan gelar dan jabatan. Seandainya ada yang militan, dibiarkan saja
karena mereka akan dianggap gila dengan ide-ide dan omongan mereka.
Justru penasihat itu menyarankan
agar Dukun Kabupaten diganti saja, karena ancaman yang nyata adalah dari
roh-roh leluhur yang militan dan bahaya. Agar kejadian seperti tempo hari tidak
terjadi lagi, agar kunjungan-kunjungan tetap lancar dan kekuasaan tidak akan
terancam oleh segala daya roh yang protes. Akhirnya Kanjeng Bupati menuruti
saran penasihatnya itu karena semua analisanya sangat masuk akal, Kanjeng
Bupatipun mengangkat penasihat itu menjadi Dukun Kabupaten yang baru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar